Kebenaran bukanlah suatu perasaan. Kebenaran bukan pula sebuah ide saja. Kebenaran terdapat dalam Alkitab. Kelompok Kultus (Cults) keliru karena tidak memiliki kebenaran ini. Yakni, mereka memiliki pemahaman yang keliru mengenai Allah Bapa, Allah Anak, Allah Roh Kudus, dan karya Kristus di atas kayu salib. Karena mereka keliru dalam hal ini, mereka juga keliru mengenai doktrin keselamatan.
Ketulusan dan pekerjaan baik tidak dapat menjembatani jurang dosa antara Allah dan manusia. Hanya darah Kristus yang dapat membersihkan seseorang (Ibrani 9:22; Yohanes 14:6). Ketulusan hati dan perbuatan baik hanyalah upaya diri sendiri untuk memperoleh penghargaan dari Allah. Ketulusan hati menjadi kesombongan ketika dipakai untuk memperoleh pembenaran dari Allah: "Tapi Allah, lihatlah hatiku. Lihat betapa tulus hatiku? Saya berhak untuk tinggal di sorga."
Tidak. Jika ketulusan hati dan perbuatan baik cukup untuk memuaskan hati Allah, maka Ia tidak akan memberikan kita Alkitab untuk mengkoreksi ide-ide tulus kita yang keliru itu, dan Ia tidak akan mengirimkan Putra-Nya untuk melakukan pekerjaan yang tidak mungkin bisa kita lakukan.
Kebenaran adalah apa yang Allah katakan sebagai benar.
Hanya Ada Satu Allah
- Kekristenan:
Doktrin Kekristenan sejati hanya mengakui adanya satu Allah di mana pun, kapan pun. Tidak ada Allah sebelum Allah; dan tidak akan ada Allah sesudah Allah (Yesaya 43:10). Allah bahkan tidak pernah tahu kalau ada Allah lain (Yesaya 44:8). Hanya ada satu Allah di seluruh alam semesta ini. Hanya satu. Paham ini disebut Monotheisme. - Mormonisme:
Dewa bumi hanyalah salah satu dari begitu banyak dewa-dewa (Bruce McConkie, Mormon Doctrine, hal. 163). Paham ini disebut polytheisme. Tetapi, mereka hanya menyembah satu dari banyak illah ini, yaitu yang dikenal dengan Elohim. Paham begini disebut monolatry.
Elohim (begitulah kaum Mormon memanggil Allah Bapa) dulunya adalah manusia dari planet lain (Mormon Doctrine, hal. 321). Elohim menjadi seorang Dewa lalu datang ke bumi ini bersama istrinya yang seorang dewi (Articles of Faith, oleh James Talmage, hal. 443). Kaum mormon memiliki potensi untuk menjadi dewa bagi dunia mereka sendiri (Teachings of the Prophet Joseph Smith, halaman 345-347, 354).
Pengajaran ini bertentangan dengan Alkitab. Kaum Mormon adalah polytheist. Kekristenan bersifat monotheistik. Mormonisme sungguh keliru. - J.W. (Saksi Yehovah):
Mereka percaya hanya ada satu Allah (Make Sure of All Things, hal 188). Mereka memanggil Allah "Yehovah." Dalam hal ini, Kaum J.W. benar. Memang hanya ada satu Allah.
Trinitas
- Kekristenan:
Allah adalah pribadi-pribadi trinitas: Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Allah Bapa bukanlah pribadi yang sama dengan Putra. Putra bukanlah pribadi yang sama dengan Roh Kudus. Roh Kudus bukanlah pribadi yang sama dengan Bapa. Ketiganya abadi, Allah, dan Maha Tahu.
Keberatan-keberatan yang diajukan atas Trinitas adalah bahwa konsep ini tidak logis. Logika seharusnya tidak boleh mengungguli Alkitab. Jika memang berasal dari Allah, pasti akan ada hal-hal yang memang sulit dipahami. Tambahan lagi, sidik jari Allah terlihat dalam semua ciptaan-Nya. Dalam Roma 1:20 dikatakan bahwa atribut-atribut Allah yang tidak kelihatan terlihat jelas dalam ciptaan-Nya. Ciptaan dibuat dari trinitas dari Trinitas: waktu, ruang, dan materi. Waktu terdiri dari masa lalu, kini, dan masa depan. Tiap "bagian" berbeda, tetapi mereka berada dalam natur yang sama: waktu. Ruang adalah tinggi, lebar, dan kedalaman. Tiap "bagian" berbeda, tetapi mereka berada dalam satu natur: ruang. Materi itu padat, cair, dan gas. Tiap "bagian" berbeda, tetapi mereka memiliki natur yang sama: materi.
· Mormonisme:
Trinitas adalah seperti kantor yang dihuni oleh 3 allah: ada sesosok dewa yang disebut bapa, ada sesosok dewa yang disebut anak, dan seorang dewa lain yang dipanggil roh kudus. Kekeliruannya adalah dalam asumsi bahwa satu "pribadi" haruslah berada dalam satu bentuk fisik (Doctrine and Covenants, 130:22) -- sesuatu seperti darah dan daging.
Paham ini berkontradiksi dengan pandangan ortodoks mengenai Trinitas dan paham ini mengajarkan Allah yang lebih dari satu (Yesaya 43:10; 44:6,8).
- J.W. (Saksi Yehovah):
Mereka menolak Trinitas (Let God be True, hal. 100-101; Make Sure of All Things, hal.386). Mereka mengatakan hanya ada satu pribadi dalam Allah: yaitu Bapa.
Mereka keliru karena menolak doktrin kebenaran dari Trinitas.
Yesus
· Kekristenan:
Yesus adalah pribadi kedua dalam Trinitas. Yesus adalah Allah sekaligus manusia. Ia sepenuhnya Allah dan sepenuhnya manusia (Kolose 2:9). Ia yang berada dalam rupa Allah, mengosongkan diri-Nya, dan menjadi manusia (Filipi 2:5-8). Sebagai Allah yang juga manusia, Ia menjadi pengantara kita (1 Timotius 2:5). Yesus tidak diciptakan (Yohanes 1:1-3), tetapi Ia pencipta segala sesuatu (Kolose 1:16-17).
- Mormonisme:
Yesus, iblis, dan kita semua adalah anak-anak roh yang lahir dalam pre-eksistensi (sebelum ada segala sesuatu), yang adalah turunan Allah Bapa dan istri dewinya (Mormon Doctrine hal. 516; Journal of Discourse, Vol. 4, hal. 218). - J.W. (Saksi Yehovah):
Yesus adalah Mikhail si Penghulu Malaikat yang menjadi manusia, mati di atas sebuah pancang/ tiang -- bukan salib -- bangkit dalam bentuh roh, dan kembali ke surga untuk menjadi malaikat lagi (The Watchtower, May 15, 1963, hal. 307; The New World, 284).
Masalahnya di sini adalah Yesus versi mereka (Mikhail) adalah makhluk ciptaan. Karena itulah Alkitab J.W. menambahkan 4 kali kata "lainnya (other)" dalam Kolose 1:16-17. Kata "lainnya" ini bukanlah teks asli Alkitab.
Keselamatan
· Kekristenan:
Keselamatan, atau pengampunan atas dosa-dosa, adalah sesuatu yang diberikan Allah kepada anda. Ini adalah anugrah yang cuma-cuma (Roma 6:23). Orang berdosa dibenarkan dalam mata Allah semata-mata hanyalah karena iman dari orang percaya atas pengorbanan Kristus di kayu salib. Pembenaran, atau dinyatakan sebagai benar, dicapai melalui iman (Roma 5:1). Perbuatan kita tidak memiliki andil dalam keselamatan kita. Jika perbuatan kita memiliki andil, maka Yesus mati sia-sia (Galatia 2:21).
· Mormonisme:
Doktrin pengampunan dosa dari Mormonisme adalah bahwa anda diselamatkan oleh anugrah setelah berbuat semampu anda (Article 8 of the Church of Jesus Christ of Latter-day Saints; Articles of Faith, karya James Talmage, hal. 92). Mereka menambah-nambahi apa yang telah diselesaikan oleh Kristus di kayu salib dengan mengatakan bahwa Yesus telah berbuat demikian sehingga kita memiliki kemungkinan untuk diampuni. Perbuatan kita harus dicampur dengan perbuatan Kristus barulah dosa-dosa kita layak diampuni oleh Allah.
Kekeliruan mereka adalah bahwa mereka menganggap bahwa perbuatan kita memiliki peran dalam keselamatan kita, dalam pengampunan atas dosa-dosa kita. Kenyataanya tidaklah demikian. Dalam Galatia pasal 3 dan 5, Paulus menyinggung masalah ini dan menyalahkan pemikiran yang tetap mengganggap perlunya menjalankan Hukum Taurat supaya dapat dibenarkan Allah. Keselamatan adalah anugrah yang cuma-cuma dari Allah, dibayar penuh oleh darah Kristus.
- J.W. (Saksi Yehovah):
Pengampunan dosa adalah melalui perbuatan baik dan kerja sama dengan Allah (Studies in the Scriptures, Vol. 1, hal. 150, 152). Mereka menganggap bahwa pengorbanan Kristus (yang sebenarnya si penghulu malaikat Mikhail) telah membuka pintu yang telah ditutup oleh Adam. Dengan kata lain, karena pengorbanan Kristuslah anda bisa bekerja sama dengan Allah dan memperoleh keselamatan.
Kekeliruan mereka sama seperti yang telah diterangkan dalam kesalahan kaum Mormon. Perbuatan tidak memiliki peran dalam keselamatan kita. Perbuatan-perbuatan kita baru memiliki arti setelah kita diselamatkan, bukan sebelumnya, dan untuk memperoleh keselamatan tidak diperlukan kerja sama dengan apa pun. Menambahi apa yang telah dikerjakan Kristus di kayu salib sama dengan mengatakan bahwa apa yang dikerjakan Yesus di kayu salib belumlah cukup. Ini adalah serangan terhadap Allah.
Kesimpulan
Kebenaran itu penting bukan semata-mata karena ia benar. Kebenaran penting karena ia mendefinisikan siapa dan apa yang kita percaya. Apakah Yesus itu saudara Iblis seperti dalam Mormonisme? Apakah Ia malaikat yang menjadi manusia? Atau, apakah Ia adalah pencipta alam semesta, pribadi kedua dari Trinitas? Hanya satu di antara pendapat itu yang benar.
Iman sangat vital. Tetapi iman yang mengimani hal-hal yang salah adalah sama saja dengan tidak memiliki iman. Iman itu benar jika objek yang diimaninya benar. Inilah pentingnya mengenal Yesus yang benar. Yaitu yang seperti diceritakan oleh Alkitab, bukan versi Mormonisme, atau pun versi kaum Saksi Yehovah.
Keabadian adalah waktu yang terlalu panjang untuk kekeliruan kita. Terutama jika kita keliru mengenai Yesus.
-----------
dikesempatan ini juga kami JC- Gen tim mengucapkan trima kasih karna telah bergabung dalam komunitas ini. teruskan menjadi berkat dengan mengundang teman2 anda yang lainnya untuk bergabung di sini dan saling berbagi. bari kita saling berbagai dalam hal:
- anda bisa membagikan kesaksian hidup anda bagaimana Tuhan melakukan sesuatu yang indah bagi anda.
- mengirimkan ayat2 Firman Tuhan.
- membagikan ucapan2 lain yang berhubungan dengan kasih Allah, dll.
akhirnya teruslah menjadi berkat bagi semua orang dan menceritakan kasih Allah bagi mereka untuk menjangkau jiwa2 bagi Allah.
Jesus Christ Bless us all.
-----------------------------
Contact:
yakobus22@yahoo.com
-----------------------------

Track List :
01. Raja Dalam Hidupku
02. Yesus kuberseru
03. Kisah Cintaku
04. Satu yang layak
05. Yesus Cinta yang murni
06. Kekasih Sejati
07. Batu karangku
08. Kutrima Jamahanmu
09. Kujadi Kekasihmu
10. Kau s’galanya bagiku
11. anugrahmu bebaskanku
12. Hangatnya dekapanmuDownload:
----------------------------
Dont forget leave ur comment... Thanks
| Baca: Markus 5:1-20 Pulanglah ke rumahmu, kepada orang-orang sekampungmu, dan beritahukanlah . . . segala sesuatu yang telah diperbuat oleh Tuhan atasmu dan bagaimana Ia telah mengasihani engkau! —Markus 5:19 |
Markus 5:1-20 merupakan nilai dramatis yang dilakukan Yesus ketika membebaskan orang yang menghancurkan dirinya sendiri dari pengaruh kuasa jahat yang merasukinya. Ketika pria yang telah dipulihkan ini memohon supaya diperkenankan menyertai Yesus ke mana pun Dia pergi, Tuhan berkata kepadanya, "Pulanglah ke rumahmu, kepada orang-orang sekampungmu, dan beritahukanlah kepada mereka segala sesuatu yang telah diperbuat oleh Tuhan atasmu dan bagaimana Ia telah mengasihani engkau!" Orang itupun pergilah dan mulai memberitakan di daerah Dekapolis segala apa yang telah diperbuat Yesus atas dirinya dan mereka semua menjadi heran" (ay.19-20).
Pengetahuan dan fasih berbicara sering dinilai terlalu tinggi saat menceritakan kabar baik tentang Yesus Kristus. Jangan meremehkan kuasa Allah yang telah bekerja di dalam diri Anda dan jangan takut untuk menceritakan kisah Anda kepada sesama. —DCM
Kiranya perkataanku menceritakan betapa besar kasih-Mu;
Dan kiranya kisah anugerah-Mu
Mengubah sejumlah hati 'tuk berpaling kepada-Mu . —Sees
---------
| Baca: Matius 13:10-15 Sebab hati bangsa ini telah menebal, dan telinganya berat mendengar, dan matanya melekat tertutup. —Matius 13:15 |
Ketika Yesus menceritakan suatu kisah untuk menggambarkan bagaimana orang menerima dan menanggapi ajaran-Nya (Mat. 13:1-9), murid-murid-Nya bertanya, "Mengapa Engkau berkata-kata kepada mereka dalam perumpamaan?" (ay.10). Sebagai jawaban, Yesus mengutip nabi Yesaya: "Sebab hati bangsa ini telah menebal, dan telinganya berat mendengar, dan matanya melekat tertutup; supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik sehingga Aku menyembuhkan mereka" (ay.15, Yes. 6:10).
Betapa berbahayanya ketika kita dengan mudahnya mengabaikan hati kita. Jika kita tidak memiliki hati atau tidak berperasaan, kita tidak menemukan sukacita dalam hidup dan pelayanan; dan hidup terasa hampa. Namun, ketika kita melembutkan hati kepada Allah, hikmat dan rasa sukacita mengalir kepada sesama melalui kita.
Jadi, bagaimana hati Anda? —DCM
Suatu tugas yang hampa
Jika kita mengabaikan hati kita terhadap Allah
Dan kita tidak mengikuti-Nya. —Sper
----------
| Baca: Galatia 1:6-12 Jikalau ada orang yang memberitakan kepadamu suatu injil, yang berbeda dengan apa yang telah kamu terima, terkutuklah dia. —Galatia 1:9 |
Penulis buku ini sepertinya menyimpulkan bahwa inti dari kehidupan rohani dalam masyarakat modern didasarkan sepenuhnya pada tindakan, atau perbuatan baik, dan bukan berdasarkan iman keselamatan di dalam Kristus. Akhirnya, saya tidak jadi menuliskan sambutan untuk buku ini.
Budaya gereja sedang berubah dengan cepat. Yang sering dilupakan di tengah gejolak untuk menemukan ide baru adalah hal dasar dari Injil. Rasul Paulus terpana karena banyak orang dengan mudah menganut "injil yang lain" (Gal. 1:6). Apa yang dikhotbahkan Paulus bukan dari manusia, tetapi penyataan langsung dari Yesus Kristus (ay.11-12).
Kita seharusnya tidak pernah melepaskan Injil sejati: Kristus mati untuk dosa kita, dikuburkan, dan bangkit kembali untuk pembenaran kita, menyatakan kita benar di hadapan Allah (Rm. 4:25; 1 Kor. 15:3-4). Hanya hal ini yang menawarkan "kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya" (Rm. 1:16). Jika kita ingin hidup untuk Allah, ini adalah satu-satunya cara untuk memulai. —JDB
Pengampunan dari dosanya,
Karena semua orang harus datang pada Kristus dengan iman
Untuk memperoleh hidup yang baru. —Branon
----------
| Baca: Lukas 10:30-37 Tuhan itu pengasih dan penyayang. —Mazmur 111:4 |
Fred dan Tom menjadi terlibat, seperti yang dilakukan orang Samaria di kisah Yesus di dalam Lukas 10. Seperti orang Samaria ini, Fred dan Tom mengatasi segala keraguan yang mungkin mereka miliki untuk menolong pria yang sedang sengsara ini. Orang Samaria juga harus mengatasi prasangka ras dan budaya. Orang-orang yang kita anggap dapat menolong pria ini, ternyata menunjukkan rasa enggan ketika melihat keadaan pria yang terluka ini.
Hal yang mudah untuk menemukan berbagai alasan supaya tidak terlibat. Kesibukan, rasa enggan, dan ketakutan sering berada di daftar teratas. Sesungguhnya ketika berusaha untuk mengikuti Tuhan kita dengan setia, kita semakin dapat melihat kesempatan-kesempatan untuk memperlihatkan belas kasihan yang ditunjukkan-Nya (Mat. 14:14; 15:32; Mrk. 6:34).
Dalam perumpamaan Orang Samaria yang Murah Hati, Yesus memuji orang yang telah berbelas kasih, meskipun hal itu tidak nyaman, sulit, dan mahal untuk dilakukan. Lalu, bagi kita, Dia berkata, "Pergilah, dan perbuatlah demikian!" (Luk. 10:37). —CHK
Kita memperlihatkan kasih dan perhatian Allah,
Yang memberikan kelepasan dan penghiburan
Ketika kehidupan terlihat terlalu berat untuk dijalani. —Sper
----------
| Baca: Mazmur 73:21-28 Dengan nasihat-Mu Engkau menuntun aku, dan kemudian Engkau mengangkat aku ke dalam kemuliaan. —Mazmur 73:24 |
Kami ingin berada di tempat ini lebih lama, tetapi tidak bisa karena ayah ingin saya pulang sebelum matahari terbenam. Bayang-bayang memanjang dan lembah di hutan semakin menggelap. Di sepanjang perjalanan pulang, saya berharap sudah tiba di rumah.
Rumah kami ada di atas bukit di balik pepohonan, tetapi lampu akan terus menyala sampai semua anggota keluarga ada di rumah. Ayah biasa duduk di teras belakang, membaca koran, dan menunggu saya pulang. "Bagaimana perjalananmu?" tanya ayah. "Sangat menyenangkan," jawab saya, "Tetapi lebih menyenangkan ketika pulang ke rumah."
Kenangan saat berjalan menyusuri sungai membuat saya memikirkan perjalanan lain yang saya tempuh sekarang. Tidak mudah, tetapi saya tahu bahwa di akhir perjalanan, ada ayah yang penuh perhatian dan rumah saya yang kekal. Saya ingin segera tiba di sana.
Saya dinantikan di Rumah kekal ini. Lampu menyala dan Bapa surgawi menanti saya. Saya yakin Dia akan bertanya, seperti yang biasa dikatakan ayah saya, "Bagaimana perjalananmu?" "Sangat menyenangkan," jawab saya. "Tetapi lebih menyenangkan ketika pulang ke Rumah." —DHR
Yesus begitu baik dan benar;
Di atas tahta-Nya yang indah Dia akan menyambutku pulang—
Setelah kulalui hari-hariku. —Vandall
----------
Yonatan . . . demi kasihnya kepada [Daud], sebab ia mengasihi Daud seperti dirinya sendiri. —1 Samuel 20:17
John Chrysostom (347–407) adalah satu dari para pengkhotbah terbesar pada gereja mula-mula. Dia diberi nama Chrysostom, yang berarti "mulut-emas", karena khotbahkhotbahnya yang fasih.
Ini adalah satu dari pandangan Chrysostom tentang arti sahabat: "Demikianlah persahabatan, melalui persahabatan kita mencintai banyak tempat dan musim; bagaikan . . . bunga-bunga menjatuhkan kelopakkelopaknya yang elok ke tanah di sekitarnya, begitu juga para sahabat menebarkan kebajikan bahkan di tempat tinggal mereka. Bersama para sahabat, kemiskinan pun terasa menyenangkan . . . . Lebih baik bagi kita bila matahari kehilangan tenaganya daripada kita harus hidup tanpa memiliki sahabat."
Cerita Yonatan dan Daud menggambarkan nilai dari persahabatan. Meskipun Daud diburu oleh raja Saul yang terganggu jiwanya, ia mendapatkan dorongan semangat dari persahabatannya dengan Yonatan, anak laki-lakinya raja Saul. "Yonatan . . . demi kasihnya kepada [Daud], sebab ia mengasihi Daud seperti dirinya sendiri" (1 Sam. 20:17). Hubungan mereka diwarnai dengan sikap saling percaya, penuh pengertian, dan dorongan semangat. Betapa sulitnya bagi Daud untuk menanggung penganiayaan yang tidak adil tanpa mendapatkan nutrisi dari persahabatan yang berlandaskan di dalam Tuhan (ay.42).
Suara di zaman purba dari Chrysostom dan kesaksian dari Daud dan Yonatan merupakan pengingat tentang kebutuhan untuk memelihara persahabatan yang telah Allah berikan kepada kita. —HDF
Dan kasih saja mungkin tidak cukup,
Doaku setiap hari adalah selama aku hidup—
"Allah, jadikanku berarti bagi para sahabatku." —Sherman

--------
Dalam alkitab konteks kesetian di pakai salah satunya adalah dalam buah roh. di Galtia 5:22 mengatakan: "Tetapi buah roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, ....". Jika kita hidup dalam kedagingan maka kita tidak akan memiliki buah roh yang salah satu sifat dari buah roh adalah kesetiaan. bagaimana seseorang bisa berkata bahwa "aku setia kepada Tuhan namun aku hidup menurut kehendakku dan menurut kedaginganku." orang yang hidup dalam kedagingan akan hidup menurut kehendaknya. dalam galatia kita telah di ingatkan untuk kita dapat hidup dalam roh agar buah roh ada di dalam hidup kita yang menjadikan kita setia kepada Tuhan karena kita tidak hidup menurut kedagingan kita dan hawa nafsu kita. saat kita hidup menurut kehendak Tuhan maka kita akan taat kepada Tuhan dan melakukan semua perintahNya dalam hidup kita maka saya dapat katakan bahwa kesetiaan ada di dalam hidup orang tersebut.
Jadi saudaraku marilah kita berpegang kepada perintah Tuhan karena Tuhan akan menunjukan kasih setiaNya kepada kita. dalam Ulangan 5:10 tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu- ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah- perintah-Ku. Jadi adakah kasih setia Tuhan ada pada diri kita? itu kembali kepada diri kita adakah kita mengasihi Tuhan dan berpegang kepada perintah-Nya yang menunjukan kesetiaan kita kepada Tuhan??
Kini saatnya untuk kita kembali kepada Dia dalam jalan yang benar. marilah kita buang segala keegoisan kita dan keinginan daging kita tapi kita hidup dalam roh dalam mengasihi Allah kita.
-----Jc-----
Bertobat dan berbalik kepada Allah serta melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sesuai dengan pertobatan itu. —Kisah Para Rasul 26:20
Satu cerita favorit saya dari komik Peanuts menampilkan tokoh Charlie Brown yang berkata pada Snoopy, "Aku dengar kau sedang menulis sebuah buku teologi. Kuharap kau mendapat judul yang baik." Snoopy menjawab, "Aku punya judul yang sempurna: Has It Ever Occured To You That You Might Be Wrong? (Pernahkah Anda Berpikir Bahwa Anda Mungkin Salah?).
Judulnya itu mengingatkan kita bahwa pemahaman kita akan Allah dan apa yang dibutuhkan-Nya dari kita kadang-kadang bertolak-belakang. Karena kepercayaan yang salah dapat mengarahkan kita pada perbuatan yang salah, kita perlu "bertobat dan berbalik kepada Allah serta melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sesuai dengan pertobatan itu" (Kis. 26:20).
Bahasa Yunani dari kata "bertobat" adalah metanoeo, yang berarti "ubah pikiran Anda". Seperti yang dinyatakan Paulus, pertobatan tidak hanya sekadar menganggukkan kepala dengan sikap hormat pada Allah, dan kita tetap melakukan tindakan kita yang lama. Saat kita mengarahkan pikiran kita kepada Allah—saat kita sungguh-sungguh setuju dengan-Nya tentang apa yang benar—tindakan akan mengikuti pikiran kita. Seperti sebuah mobil, kita pergi ke arah yang ditunjukkan pada kita. Demikianlah, ketika kita sungguh-sungguh mengarahkan pikiran dan hati kita pada Allah, perbuatan kita akan turut berubah.
Daripada meneruskan kesenangan, dengan anggapan bahwa pilihan-pilihan kita benar, kita perlu berdiam diri secara teratur dan mengajukan pertanyaannya Snoopy pada diri sendiri. Seperti yang diajarkan Paulus, ketika kita bersedia mengakui kesalahan kita, kita dapat yakin bahwa kita sedang melakukan yang benar bersama Allah. —JAL
Mengakuinya sebagai dosa,
Jika kita ingin mendapatkan kuasa Allah untuk menyembuhkan
Dan menyucikan diri kita dari dalam. —Fasick
-------
Serombongan orang Kristen berekreasi ke sebuah pulau indah. Pada perjalanan pulang, kapal itu mengalami musibah. Kapal hampir tenggelam. Semua penumpang dikumpulkan oleh awak kapal. Kapten kapal itu mengatakan, "Semua yang hadir di sini adalah orang Kristen, saya harap ada seseorang yang mau memimpin doa untuk keselamatan kita."
Semua terdiam, tidak satu pun mau memimpin doa, mereka saling lempar pandang dan berbisik agar yang lain saja yang melakukan.
Lalu kapten kapal itu bertanya sekali lagi, "Apakah ada yang mau memimpin doa?" semua tetap diam.
"Kalau tidak ada yang mau berdoa, apakah ada yang mau memimpin pujian untuk Tuhan?" kapten kapal itu melanjutkan permintaannya.
Lalu, datanglah seorang pemuda gagah.
"Terima kasih, apakah Anda mau berdoa atau memimpin pujian?" tanya kapten kapal itu.
"Tidak, saya mengedarkan kantong kolekte saja," jawab pemuda terebut.
"Engkau yang mendengarkan doa. Kepada-Mulah datang semua yang hidup." (Mazmur 65:2)
Metode orang ateis untuk membuktikan bahwa Tuhan itu tidak ada adalah dengan doa minta roti.
Suatu hari, seorang guru di sebuah negara menerapkan metode tersebut kepada murid-muridnya.
"Anak-anak, Tuhan itu tidak ada. Mau tahu buktinya? Coba, Novich maju ke depan dan berdoa kepada Tuhan minta roti!"
Anak yang pintar ini maju lalu berdoa minta roti pada Tuhan. Ternyata tidak muncul roti sepotong pun.
"Nah, Novich, mana rotimu?" tanya sang guru.
Jawab Novich, "Tuhan memang tidak mau memberi roti, percuma saja, karena Dia tahu saya sudah sarapan pagi sampai kenyang sekali!"
-------
“Akan tetapi terjadilah gempa bumi yang hebat, sehingga sendi-sendi penjara itu goyah; dan seketika itu juga terbukalah semua pintu dan terlepaslah belenggu mereka semua ” Kisah Para Rasul 16:26
Filipi, suatu kota di daerah Makedonia, merupakan salah satu tujuan Rasul Paulus dan rekannya Silas dalam pelayanan misi mereka. Seperti halnya di tempat lain, di kota ini Paulus juga mendapat tentangan dari orang-orang yang tidak suka akan pemberitaan injil. Bahkan mereka ditangkap dan didera, kemudian dimasukkan ke dalam penjara.
“Setelah mereka berkali-kali didera, mereka dilemparkan ke dalam penjara. Kepala penjara diperintahkan untuk menjaga mereka dengan sungguh-sungguh. Sesuai dengan perintah itu, kepala penjara memasukkan mereka ke ruang penjara yang paling tengah dan membelenggu kaki mereka dalam pasungan yang kuat.” Kis 16:23-24
*courtesy of PelitaHidup.com
Keadaan ini tidak mempengaruhi semangat Paulus dalam mengikut Yesus ataupun memberitakan injil. Bahkan kita akan melihat bahwa belenggu maupun penjara tidak dapat membungkam dan menghalangi pelayanan mereka.
Dalam kehidupan sehari-hari, banyak sekali belenggu dosa maupun masalah yang mengikat kehidupan kita. Bahkan hidup kita seperti terpenjara, sehingga kita merasa bahwa kita tidak sanggup lagi berbuat apa-apa. Pengharapan hilang ditelan oleh keadaan maupun kondisi yang dialami.
Pekerjaan yang tidak menentu, orang-orang di sekeliling yang membenci kita, keuangan yang selalu berkekurangan, rumah tangga maupun keluarga yang selalu bermasalah, teman pelayanan yang juga selalu bertentangan dengan kita; semuanya itu yang selalu kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Tetapi keadaan ataupun masalah yang terjadi tidak boleh menghalangi kita untuk tetap setia di dalam Tuhan. Jangan sampai kondisi tersebut justru membelenggu bahkan memenjarakan hidup kita sehingga kita tidak dapat berbuat maksimal bagi kemuliaan nama Tuhan.
Berikut rahasia dari Rasul Paulus sehingga dia dapat terlepas dari belenggu dan penjara:
1. Doa dan Puji-pujian
*courtesy of PelitaHidup.com
“Tetapi kira-kira tengah malam Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah dan orang-orang hukuman lain mendengarkan mereka.” Kis 16:25
Penjara tidak membuat Paulus dan Silas bersedih, muram, menangis, putus asa ataupun stres.Tetapi mereka justru menaikkan doa dan puji-pujian kepada Allah. Dipenjara ataupun tidak, tidak menjadi alasan bagi Paulus untuk berhenti berdoa atau memuji Tuhan. Dalam segala keadaan dia tetapi bersyukur kepada Allah, baik dalam keadaan senang maupun susah.
Puji-pujian yang dinaikkan akan membawa kekuatan bagi hidup kita. Terlebih lagi jika kita berada dalam suatu masalah. Ada kuasa di dalam puji-pujian. Tuhan bertahta di atas puji-pujian kita (Maz 22:4).
Bahkan lewat doa dan puji-pujian, kita akan terlepas dari belenggu dan penjara yang mengurung hidup kita.
“Akan tetapi terjadilah gempa bumi yang hebat, sehingga sendi-sendi penjara itu goyah; dan seketika itu juga terbukalah semua pintu dan terlepaslah belenggu mereka semua. ” Kis 16:26
*courtesy of PelitaHidup.com
.
2. Mempererat Hubungan dengan Tuhan
“Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati.” Fil 3:10-11
Penderitaan yang dialami Paulus tidak membuat dirinya berhenti untuk mengenal Tuhan. Setiap derita dan aniaya yang dialaminya membuat Paulus lebih mengenal Allahnya. Paulus tahu bahwa pengenalan akan Tuhan merupakan suatu hal yang melebihi segalanya. Dan pengenalan akan Tuhan merupakan suatu harta yang begitu berharga yang jauh lebih bernilai dibandingkan segala apapun yang ada di dunia ini.
Oleh sebab itu, penjara tidak membuat Paulus bersedih, karena dia tahu bahwa dia memiliki sesuatu yang sangat berharga dalam dirinya. Dan Paulus tidak mau melepaskan hal itu, bahkan dia ingin lebih lagi mengenal Kristus agar dia dapat memperoleh mahkota yang sudah disiapkan baginya.
Masalah maupun pencobaan diijinkan Tuhan bagi hidup kita agar kita dapat lebih mengenal dan mendekat kepada Tuhan. Sakit penyakit, kebangkrutan, kegagalan dan bahkan pergumulan bertahun-tahun terjadi dalam hidup kita agar kita dapat lebih lagi mempererat hubungan kita dengan Tuhan.
Dan ketika kita semakin intim lagi dengan Dia, maka tidak ada yang dapat menghalangi dan membelenggu semangat hidup kita, oleh karena sesuatu yang berharga telah menjadi bagian dalam hidup kita. Dan kita tahu pasti bahwa setiap janjiNya akan digenapi dalam hidup kita.
“Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi. Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya. ” Maz 73:25-26
.3. Berpikir Positif
“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” Fil 4:8
Aniaya dan penjara bisa saja membuat Paulus merasa putus asa. Dia bisa saja kecewa dan protes kepada Tuhan. Dan sebagai manusia, dia juga bisa saja mengeluh dan bersungut-sungut. Tetapi yang kita lihat justru segala sesuatu yang positif keluar dari mulutnya. Dia tahu bahwa pikiran yang positif akan membawa dia kepada kemenangan.
Ketika bangsa Israel berada di padang gurun untuk menuju ke tanah perjanjian, banyak dari mereka yang bersungut-sungut atas keadaan yang mereka alami. Sebagian dari bangsa Israel yang bersungut-sungut ini tidak dapat masuk ke dalam tanah perjanjian (Bil 14:27-30).
Ketika kita berpikiran negatif, menggerutu, mengomel dan mengeluh, maka kita sedang melepaskan berkat yang sebenarnya sudah menjadi bagian kita. Marilah kita senantiasa berpikiran positif dalam keadaan seburuk apapun yang kita alami. Dengan demikian maka berkat Tuhan akan mengalir bagi kita. Masalah maupun pencobaan apapun tidak dapat membelenggu hidup kita yang senantiasa berpikiran positif. Kita akan terus melangkah maju meraih kemenangan demi kemenangan.
“Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu.” Fil 4:9
Rasul Paulus memberikan teladan yang begitu berharga bagi kita semua. Dia melakukan segala kehendak Bapa di surga dalam setiap langkah hidupnya. Penjara dan aniaya tidak dapat membelenggu hidupnya. Bahkan ketika dia tetap menjaga hidupnya murni di hadapan Tuhan, nama Tuhan semakin dimuliakan.
Demikian juga kita sebagai umat Tuhan, kita harus tetap menjaga hati kita di hadapan Tuhan. Ketiga rahasia di atas akan membawa kita untuk terlepas dari masalah apapun yang membelenggu kehidupan kita. Haleluya!
------
| Bacaan hari ini: Matius 23:1-12 Ayat mas hari ini: Matius 23:3 Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 52-54 | |
| Tujuan pendidikan adalah membuat seseorang yang tidak tahu menjadi tahu. Dari tidak bisa menjadi bisa. Dari yang sudah tahu menjadi lebih tahu. Dan dari yang sudah bisa menjadi lebih bisa. Sehingga ada perubahan dalam hidup. Dan untuk mewujudkan semuanya itu diperlukan seorang guru yang memang memiliki hati untuk mendidik siswanya. Yesus menegur orang-orang Farisi dengan sangat keras karena mereka tidak menjadi guru yang baik bagi umat. Orang Farisi sebagai orang yang duduk di kursi Musa, yaitu orang yang memahami hukum dan peraturan agama, memiliki tugas membawa umat menjadi orang-orang yang hidup sesuai hukum Tuhan. Namun kenyataannya tidaklah demikian. Mereka lebih suka menekankan penampilan dan pujian (ayat 5), mengajarkan peraturan yang berat bagi umat tanpa mau menjadi teladan dalam melakukannya (ayat 4). Jadi, apa yang dilakukan orang Farisi bukanlah membuat umat menjadi semakin tahu dan mau melakukan hukum Taurat, tetapi membuat umat merasa mendapat beban berat tatkala berhadapan dengan hukum Taurat. Mereka telah melakukan pembodohan. Itu sebabnya Tuhan menegur mereka sebagai orang yang munafik. Guru, orangtua, dan pendeta adalah orang-orang yang memiliki tugas mendidik. Tugas ini tampaknya sangat sederhana, tetapi sangat memerlukan hati. Hati yang berisi hasrat untuk melihat anak-anak yang dididik menjadi lebih baik. Bagaimana memiliki hati yang seperti ini? Hal pertama yang harus kita miliki adalah kerelaan untuk berbagi hal terbaik yang kita miliki tanpa pamrih, entah itu pengetahuan ataupun pengalaman hidup yang berharga. Di samping itu, kita mesti tetap disiplin mengisi diri dengan hal-hal yang baik. PEMBODOHAN ADALAH TUJUAN SEORANG PENIPU. PENDIDIKAN ADALAH TUJUAN SEORANG PENDIDIK ------- | |
| Baca: Yesaya 42:1-4,23-25 Tangan Tuhan tidak kurang panjang untuk menyelamatkan . . . . [Tetapi] yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu. —Yesaya 59:1-2 |
Hal yang serupa, bangsa Israel kuno berpikir bahwa Allah tuli ketika mereka menghadapi masalah. Yesaya adalah nabi yang diutus untuk mengingatkan umat Allah tentang penghakiman yang akan datang, tetapi peringatannya itu tidak didengarkan. Alih-alih sebagai umat perjanjian Allah yang menjadi terang bagi bangsa-bangsa dan mengeluarkan orang hukuman dari tempat tahanan dosa (42:6,7), mereka menolak untuk mendengar-Nya. "Mereka tidak mau mengikuti jalan yang telah ditunjuk-Nya, dan kepada pengajaran-Nya mereka tidak mau mendengar" (ay.24).
Yesaya menjelaskan mengapa doa-doa mereka kelihatannya tidak didengarkan Allah: "Sesungguhnya, tangan Tuhan tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar; tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu" (Yes. 59:1-2). Satu alasan mengapa kita tidak menerima jawaban dari Allah adalah dosa yang menyumbat pendengaran kita. Marilah menguji diri kita dengan cermat.
Allah kita tidaklah sulit untuk mendengar. —CPH
Tak juga impian dunia ini yang penuh tipu daya;
Aku telah mematikan semua kesenangan dosa,
Yesus milikku; di antara kami tak ada pemisah. —Tindley
--------
| Baca: Matius 7:15-23 Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas. —Matius 7:15 |
Alkitab memberitahu kita bahwa iblis berusaha untuk meniru Allah. Sasarannya adalah "menyamai Yang Mahatinggi" (Yes. 14:12-15). Melalui tipu daya, Setan berusaha untuk menggantikan Kristus dengan suatu penyamaran. Yesus sendiri mengingatkan kita tentang para nabi palsu dan mesias palsu: "Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu! Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah Mesias, dan mereka akan menyesatkan banyak orang" (Mat. 24:4-5).
Bagaimana kita dapat mengetahui perbedaan antara Mesias sejati dengan yang palsu? Satu-satunya Kristus yang sejati adalah seorang Pribadi yang dijelaskan di dalam Alkitab. Siapa pun atau apa pun yang menggambarkan tentang Yesus yang berbeda dari Pribadi yang dituliskan di Alkitab merupakan "keledai berbulu singa". —HDF
Bahwa ia berbicara langsung dengan Tuhan
Jika yang dikatakannya tidak sesuai
Dengan segala hal yang tertulis di Alkitab. —Sper
--------

